Jumat, 15 Maret 2013

TANGGAL KELAHIRANKU


14 maret 2013 tepatnya hari kamis.
Ada apa dengan hari ini?
Hari ini adalah salah satu hari kebahagiaan yang ku lewati dan penuh rasa syukur. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku yan ke-21. Tidak terasa angka umurku sudah besar. Itu artinya aku sudah bertambah dewasa.
Namun apa yang terjadi?
Tanya saja sama Abang SL, Karena beberapa tahun ini, hanya dia yang paling dekat denganku. Dia yang selalu setia menemaniku, walaupun mungkin itu terpaksa, hehehe.
Semoga apa yang dido’akan oleh sahabat-sahabat dan teman-temanku tercapai, termasuk yang di do’akan sama abang tersayang donk. Amin y Rabb..

Jumat, 08 Maret 2013

SINONIMI DAN ANTONIMI


PENDAHULUAN
Bahasa merupakan media komunikasi yang paling efektif yang dipergunakan oleh manusia untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Bahasa yang digunakan dalam berinteraksi pada keseharian kita sangat bervariasi bentuknya, baik dilihat dari fungsi maupun bentuknya. Tataran penggunaan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi tentunya tidak lepas dari penggunaan kata atau kalimat yang bermuara pada makna, yang merupakan ruang lingkup dari semantik.
Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, sering kali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonimi), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Berikut ini akan dibicarakan hal tesebut satu persatu.

PEMBAHASAN
1.      SINONIMI

Sinonimi  berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’ dan syn yang berarti ‘dengan’. Jadi, sinonimi adalah ‘nama kain untuk benda atau hal yang sama.Venhaar (1978) mengatakan sinonimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Contoh: mati, wafat, meninggal, dan mampus
Buruk, dan jelek
Sinonimi “ maknanya kurang lebih sama” ini berarti, dua buah kata yang bersinonim itu, kesamaannya tidak seratus persen, hanya kurang lebih saja. Kalau dua buah kata yang bersinonim tidak memiliki makna yang persis sama, yang sama apanya? Menurut teori Venhaar yang sama adalah informasinya.
Sinonimi adalah hubungan atau relasi persamaan makna. Hubungannya bersifat timbal balik; dapat kita katakan bahwa nasib bersinonim dengan takdir, ataupun sebaliknya kata takdir bersinonim dengan nasib. Jadi, bentuk kebahasaan yang satu memiliki kesamaan makna dengan bentuk kebahasaan yang lain. Walaupun kata-kata bersinonim tersebut memiliki kesamaan makna, tetapi kesamaan makna itu tidak bersifat menyeluruh (total) atau benar-benar hanya bersifat “mirip”.
Contoh sinonimi
mati = tewas
ayah = bapak
pintar = pandai
cantik = molek
bunga = kembang
hemat = irit
bodoh = dungu
kejam = bengis

2.      ANTONIMI DAN OPOSISI

Antonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’ dan anti yang berarti ‘melawan. Jadi antonimi adalah ‘nama lain untuk benda lain pula’. Venhaar menjelaskan (1978) mendefinisikan antonimi adalah ungkapan (berupa kata, dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat).
Contoh : besar X kecil
pulang X pergi
Contoh Antonim :
•kerasx lembek
•naikx turun
•kayax miskin
•surgax neraka
•laki-lakix perempuan
•atas x bawah
Contoh kalimat :
1. Suara pak guru sangat keras sekali
2. Kue lapis yang dimakan toni sangat lembek
3. Laki-laki itu datang tak diundang
4. Nina adalah perempuan yang baik hati dan ramah
Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutnya oposisi makna.

Berdasarkan sifatnya, oposisi dapat dibedakan menjadi:

2.1  Oposisi Mutlak

Di sini terdapat pertentangan makna secara mutlak.
Contoh: hidup dan mati.
Antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang yang hidup tentu belum mati; sedangkan sesuatu yang mati tentu sudah tidak hidup lagi.

2.2  Oposisi Kutub

Makna kata-kata yang temasuk oposisi kutub ini pertentangannya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi (terdapat tingkat-tingkat makna pada kata tersebut).
Contoh: kaya dan miskin
Orang yang tidak kaya belum tentu miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belum tentu merasa kaya.

2.3  Oposisi Hubungan

Makna kata-kata yang beraposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya kehadiran kata yang satu karena ada kata lain yang menjadi oposisinya, tanpa kehadirannya keduanya maka oposisi ini tidak ada.
Contoh: menjual dan membeli
suami istri
             

     
2.4  Oposisi Hierakial

Makna kata-kata yang beroposisi hierarkial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tingkatan. Kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi).
Misalnya: meter beraposisi hierarkial dengan kata kilometer



2.5  Oposisi Majemuk

Adalah oposisi di antara dua buah kata.
Contoh: mati-hidup
Jauh-dekat


Sumber
Chaer, Abdul. 2009 Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.Jakarta: Rineka Cipta



Rabu, 06 Maret 2013

TRANSKIP PEMBELAJARAN


BERCERITA DENGAN URUTAN YANG BAIK
Assalamualaikum. Wr.Wb
Guru                : Selamat pagi anak-anak.
Murid              : Pagi juga bu.
Guru                : Siapa yang tidak hadir hari ini?
Murid              : hadir semua bu
Guru                :baiklah, untuk pertemuan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara bercerita dengan baik. Sebelum ibu menjelaskan tentang bagaimana cara bercerita dengan baik, ibu akan bertanya kepada kalian semua, siapa yang pernah bercerita?
Diah                : Saya bu, (Diah mengangkat tangannya)
Guru                : bercerita tentang apa Diah?
Diah                : saya suka cerita dongeng bu.
Guru                : kepada siapa Diah bercerita?
Diah                : sama adik saya bu.
Guru                : bagus.
siapa lagi yang pernah bercerita?
Lewi                : saya bu, ( Lewi sambil mengangkat tangannya)
Guru                : ceritanya tentang apa?
Lewi                : saya pernah bercerita tentang kisah Nabi bu, sama adik saya karena dia tidak mau tidur, kemudian setelah saya bercerita adik saya baru dia mau tidur.
Guru                : wahh.. kamu memang kakak yang baik Lewi.
                        Ada lagi yang lain yang pernah bercerita?
Mida                : saya bu. (Mida sambil mengangkat tangannya)
Guru                : bercerita  sama siapa Mida?
Mida                : saya bercerita dengan teman saya bu, tentang film yang saya tonton.
Guru                : wah. Bagus.
                        Ternyata murid ibu sudah banyak yang bercerita.
Guru                : sekarang ibu mau bertanya lagi. Apa yang harus kita perhatikan ketika bercerita?
Yanti               : (Yanti mengangkat tangannya) sambil berkata”suaranya harus keras bu.
Guru                :  ya bagus Yanti.
Habibah           : saya bu. (sambil mengangkat tangannya) kalau kita bercerita harus menghadap kepada pendengarnya  bu.
Guru                :  Wah,, hebat kamu Habibah.
                        Ada lagi?
Tetty                : saya Bu, ( sambil mengangkat tanggannya) apa yang kita ceritakan harus sesuai dengan ekspresi wajah bu.
Guru                : ya. Bagus, pintar kamu Tetty.
                        Apa yang disampaikan oleh teman-teman kalian semua tadi sudah benar. Ketika kita bercerita memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Sehingga kita dapat bercerita dengan baik.  Misalnya: suara kita harus jelas, dan juga hsrus menggunakan ekspresi atau penjiwaan, agar orang yang mendengarkan kita bercerita bisa percaya. Jika perlu, kita harus menggerakkan anggota tubuh, seperti tangan, kepala dan anggot tubuh lainnya. Selain itu ketika bercerita, kita menggunakan urutan yang sesuai kejadian sehingga pendengar mudah memahami tentang isi dari cerita yang kita sampaikan.
                        Dalam bercerita ada 6 (enam) hal  yang harus diperhatikan.
                        Pertama, urutan waktu,
                        Kedua, suara,
                        Ketiga, pelafalan
                        Keempat, intonasi
                        Kelima, gesture
                        Dan  yang keenam, mimik atau ekspresi wajah.
                        Apa  yang dimaksud dengan urutan waktu?
Suci                 : saya bu (Suci sambil mengangkat tangannya) urutan waktu adalah cerita dari awal sampai akhir.
Guru                : bagus kamu Suci,
                        Ada yang lain ( semua murid terdiam sambil berpikir)
                        Apa yang dikatan suci tadi sudah benar, urutan waktu adalah rangakain kejadian suatu peristiwa. Kemudian suara. Suara merupakan modal utama dalam bercerita, suara juga harus disesuaikan dengan pendengar atau ruangan yang ada. Jika pendengarnya banyak dan ruangannya besar kita harus mengeraskan suara, sehingga apa yang kita ceritakan atau apa yang kita sampaikan  bisa terdengar oleh  si pendengar.
                        Kemudian, pelafalan.
                        Siapa yang tahu tentang pelafalan
Murid              : semua murid terdiam, (sambil memikirkan jawabannya)
Diah                : kemudian diah mengangkat tangannya sambil berkata “saya bu”.
Guru                : ya,,
                        Kamu Diah?
                        Apa yang dimaksud dengan pelafalan?
Diah                : pelafalan itu ucapan bu.
Guru                : benar kamu Diah.
jadi, Pelafalan itu adalah ujaran atau ucapan yang tepat, sehingga cerita dapat dipahami dengan jelas oleh pendengar.
Kemudian intonasi, apa itu intonasi?
Lewi                : saya bu. Intonasi adalah nada bu.
Guru                : benar. Jadi intonasi adalah tinggi rendahnya suara,  Sehingga pendengar tidak bosan mendengarkan cerita yang disampaikan.
                        Kemudian gesture, gesture adalah gerakan anggota badan, misalnya tangan, kepala dan sebagainya.
                        Dan yang terakhir adalah mimik atau ekspresi wajah. Jika ceritanya senanga atau bahagia si pencerita harus menunjukkna ekspresi wajah yang ceria, begitu juga sebaliknya, jika ceritanya sedih, si pencerita harus menunjukkan ekspresi wajah sedih. Gerak dan ekspresi wajah yang sesuai dengan apa yang diceritakan akan membuat cerita terasa lebih menarik.
                        Jadi, ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam bercerita,  di antaranya :
-          Urutan ceritanya harus menarik
-          Suaranya  harus kuat dan lantang
-          Pelafalannya harus tepat
-          Ada intonasi atau tinggi rendahnya suara
-          Ada gerakan anggota tubuh, tangan dan kepala misalnya.
-          Dan yang terakhir ada mimik atau ekspresi wajah.
                        Sudah mengerti anak-anak sekalian tentang cara bercerita?
Murid              : sudah bu (jawab murid serentak)
Guru                : ada pertanyaan?
Murid              : tidak bu.
Guru                : Baiklah, karena tidak ada yang bertanya, ibu rasa untuk materi hari ini kita cukupkan sampai disini, ibu akhiri dengan wassalammualaikum. Wr.Wb.